Selasa, 23 April 2019

Dolly dan Serangkaian Kisah Di Baliknya




Lokalisasi Dolly
Berada di tempat yang strategis di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Jawa Timur. Wilayah lokalisasi prostitusi yang beraktivitas mulai sekitar tahun 1960-an ini mencakup 5 RW dan berada di kawasan padat penduduk. Di kiri kanan jalan sepanjang kurang lebih 150 meter dengan lebar sekitar 5 meter beraspal cukup halus, hasil proyek Perbaikan Kampung (Kampung Improvement Project) tahun 1977. Tepatnya, kompleks pelacuran ini berlokasi di Jalan Kupang Gunung Timur V Raya.
Kawasan ini baru hidup pada saat malam hari. Di kawasan ini banyak berdiri wisma-wisma, klub malam dan tempat karaoke dengan lampu gemerlapan yang berkelapkelip di setiap tempat hiburan. Sementara itu, kondisinya saat siang hari tidak begitu menarik nyata seperti pada umumnya perkampungan penduduk. Kehidupan daerah Dolly di siang hari menampilkan wajah-wajah asli wanita penghuninya, tanpa make up tidak begitu menyolok hanya polesan tipis menghiasi wajah-wajah mereka. Sebagian besar penduduk di sekitar lokalisasi juga memanfaatkan keberadaan wismawisma itu dengan berjualan kopi, rokok ataupun makanan. Di rumah-rumah itulah para warga yang tinggal di sekitar lokalisasi, pekerja seks komersial dan juga mucikari tinggal berdampingan secara damai.
Tidak ada yang tahu pasti bagaimana kawasan lokalisasi Dolly berdiri untuk pertama kalinya. Namun, nama Dolly sudah sangat terkenal sejak lama. Bahkan sejumlah literatur menyebutkan Dolly sudah ada sejak abad 19, di masa kolonial Belanda.
Konon kawasan ini menjadi lokalisasi pelacuran yang terbesar se-Asia Tenggara dibandingkan Phat Pong di Bangkok-Thailand dan Geylang di Singapura. Keberadaan Dolly bahkan dinilai lebih terkenal dibandingkan Kota Surabaya sendiri. Bukan hanya warga lokal yang datang ke Dolly, bahkan orang asing pun diketahui banyak yang penasaran dengan Dolly. Banyak wisatawan luar negeri yang menyeberang dari Bali ke Surabaya hanya untuk ke Dolly. Bahkan banyak yang mengatakan belum ke Surabaya jika belum mampir ke Dolly. Meskipun hanya sekedar lewat untuk melihat-lihat saja, kehidupan Dolly di malam hari.
Menurut sejarahnya asal mulanya didirikan oleh seorang perempuan Noni Belanda Karena tempatnya berada di jalan Jarak. Maka nama lokalisasinya adalah “Jarak”. Sedangkan Tante Dolly itu bukan yang kali pertama mendirikan lokalisasi Dolly tersebut, tapi merupakan generasi kedua setelah “Jarak”. Karena lokalisasi Jarak yang masih satu kompleks dengan lokalisasi Dolly itu lebih dulu ada dibanding Gang Dolly, maka orang lebih mengenalnya dengan nama “Dolly” yang identik dengan “Jarak”.
Namun, justru Tante Dolly lebih terkenal se-antero Asia Tenggara dibanding pendahulunya, yaitu Jarak. Jarak sendiri, merupakan limpahan atau buangan Pekerja Sek Komersil dari lokalisasi yang ada di stren kali Jagir, Wonokromo.
kompleks ini awalnya merupakan pemakaman Tionghoa meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
Pada tahun 1960-an, makam-makam tersebut dibongkar dan sebagian besar dijadikan permukiman. Sekitar tahun 1966, munculah para pendatang yang kemudian menetap di kawasan itu. Dan tercatat pada 1967, datang seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tante Dolly.
Dolly, yang kemudian menikah dengan seorang pelaut Belanda. Dolly merupakan seorang wanita yang memiliki perangai seperti laki-laki, alias tomboy. Dolly, lebih suka dipanggil “papi” dari pada “mami”. Dari hasil pernikahannya, Dolly dikaruniai seorang putra yang diberi nama Edy. Dolly juga mengambil anak angkat yang diberi nama Bambang. Bersama suaminya Dolly mendirikan rumah bordil pertama di sebuah jalan, yang bernama Jalan Kupang Gunung Timur I. Bisnis “Papi Dolly” awalnya sempat dilanjutkan oleh seorang anak hasil hubungan Dolly dengan seorang pelaut Belanda.
Namun, usaha itu tidak dilanjutkan setelah anak “Papi Dolly” tersebut meninggal dunia. Dolly, kemudian mengelola satu wisma bernama Mamamia. Tak lama setelah itu, dibangun sebuah wisma bernama Barbara yang dikelola oleh keturunan Belanda. Akhirnya, Dolly memiliki usaha pelacuran. Ia mengangkat mucikari yang diambil dari Kampung Semolosewu. Dari sini mulai muncul sebutan Papi Dolly. Papi Dolly sendiri tidak hanya memiliki satu wisma, tetapi memiliki empat wisma itu masing-masing diberi nama T, Sul, NM dan MR. Tiga di antara empat wisma itu disewakan pada orang lain. Di lokasi itu, muncul kemudian beberapa wisma baru seperti Wisma TKT dan Sembilan Belas.
Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mendirikan usaha di sekitar wisma milik tante Dolly. Kawasan itu kemudian dikenal dengan sebutan Gang Dolly yang juga bersebelahan dengan kawasan prostitusi Jarak. Jadilah perkampungan itu menjadi nama Gang Dolly pada awal 1970. Keberadaan rumah pelacuran itu banyak membuat orang penasaran.
Bahkan, sosok Tante Dolly juga membuat banyak lelaki hidung belang datang ke tempat tersebut. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK. Namun, nama Dolly-lah yang lebih santer dibandingkan dengan Jarak. Hingga puluhan wisma bermunculan mulai dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur, hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.
Selain lokasinya yang strategis, cara menjajakan pelacur di tempat ini juga cukup dramatis dan miris sehingga menjadikan Dolly sangat terkenal. Para pemuas nafsu itu akan dipajang di ruangan berkaca dengan lampu menggoda layaknya etalase, bak ikan di aquarium. Para PSK duduk berjajar rapi dengan pakaian serba minim dan menantang dengan high hells. Dengan begitu, lelaki yang datang untuk memakai jasanya akan bebas memilih dengan siapa ia mau ditemani. Sedangkan, di luar etalase lelaki yang hendak memakai jasa PSK tersebut tidak terlihat oleh PSK. Kian suksesnya bisnis Tante Dolly ini, dibuktikan dengan makin menjamurnya wisma di tempatnya itu, tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.
Dan akhirnya lokalisasi itu disebut Gang Dolly, yang cukup terkenal seAsia Tenggara. Dolly, mencapai puncak kejayaannya pada tahun 2004. Perputaran uang di Dolly sungguh fantasis. Dalam satu hari uang yang berputar di sana mencapai Rp 5 milyar sehari dan ada sekitar 15 ribu orang yang menggantungkan hidupnya di sana. Mulai dari sopir taksi, penjual makanan, penjual minuman, tukang becak, tukang cuci, pemilik wisma, pemilik karaoke hingga warga yang menyewakan lahan parkir.
Bahkan, sebagian aliran uang panas tersebut jatuh ke aparat. Mulai dari tingkat RT, RW, satpol PP, polisi hingga tentara. Pada saat itu ada 56 wisma besar di Dolly saja, terkumpul uang kontrol Rp. 7,5 juta per hari. Per bulan mencapai Rp 420 juta. Itu dengan asumsi tamu yang datang setiap hari sekitar 1.500 orang. Versi lain menyebutkan bahwa Perputaran uang di Lokalisasi Gang Dolly yang berpuluh-puluh tahun buka 24 jam hingga dibatasi hanya 16 jam, yaitu pukul 09.00 Wib sampai pukul 01.00 dini hari berikutnya.
Pada tahun 2011, saat itu merupakan salah satu mesin ekonomi Surabaya. Pasalnya, di kawasan Dolly ini, perputaran uang tidak hanya terjadi dari aktivitas penjaja dan penikmat seks semata. Warga di sekitar Dolly yang beraktivitas sebagai pedagang kaki lima (PKL), calo PSK, penjual rokok, pemilik warung kopi hingga buruh cuci juga turut andil di dalamnya. Setiap hari, deretan parkir, PKL, penjual rokok, penjual kopi hampir tidak pernah sepi di sepanjang jalan itu. Begitu juga dengan klub malam dan tempat-tempat karaoke, semakin malam akan semakin banyak pengunjung yang datang. Bukan hanya dari dalam kota, tapi juga dari luar kota Surabaya dan bahkan mancanegara. Lokalisasi prostitusi yang sudah beraktivitas sejak tahun 1960-an ini telah menjadi tumpuan hidup ribuan orang.
Banyak yang menyebutkan bahwa perputaran uang di kawasan light district legendaris ini bisa mencapai miliaran rupiah. Ada yang menyebutkan Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar dalam sehari. Belum termasuk jumlah uang yang masuk ke kas daerah dari pajak yang nilainya juga bisa mencapai miliaran rupiah. Namun, Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Kota Surabaya, Joestamadji, membantah bahwa puluhan miliar uang dari Dolly tidak masuk ke kas daerah Menurut Joestamadji, mengatakan bahwa “sejumlah aktivitas di Dolly tidak ditarif retribusi selama ini”. Sementara itu, menurut hitungan AFP, dalam sehari semalam, uang yang berputar di kawasan ini mencapai Rp 300 juta hingga Rp 500 juta (25.000 $ USA–42.000 $ USA$).
Uang itu sebagian besar dinikmati oleh para pedagang kaki lima di sekitar lokasi, para sopir taksi dan tukang ojek. Mereka semua menggantungkan hidupnya dari bisnis tersebut. Penghasilan rata-rata yang diterima tiap malam untuk PSK bervariasi, tergantung dari transaksi awal. Ada yang mendapatkan penghasilan sebesar Rp 8–10 juta hingga Rp 13–15 juta rupiah per malam (850 $ US -1.500 $ US) atau sekitar Rp 36 Milyar/tahun. Versi lain menyatakan bahwa setiap PSK bisa mengantongi uang sekitar Rp 13 juta hingga Rp 15 juta per bulan. Sedangkan sang mucikari tentu jauh lebih banyak yakni bisa mencapai Rp 60 juta per bulan. Berapa rupiah mereka akan kehilangan jika lokalisasi Dolly tersebut di tutup. Hal inilah yang menjadi alasan mereka untuk tetap mempertahankan keberadaan Dolly. Mendapatkan uang dalam jumlah besar yang bisa diperoleh dengan mudah. Hal ini pulalah yang membuat PSK Dolly selalu bertambah dan hanya sebagian kecil yang mau beralih profesi dan dipulangkan. Melihat begitu besarnya perputaran uang dari kehadiran rumah-rumah bordil di kawasan Dolly, tak heran jika muncul penolakan atas penutupan lokalisasi itu. Sebagian besar PSK dan mucikari Dolly memang mengaku tidak setuju dengan rencana penutupan tersebut. Alasannya yakni karena bisnis esek-esek yang dijalankan sudah terlanjur makmur. Puluhan juta rupiah bisa diperoleh setiap bulannya dari satu wisma atau pemilik tempat hiburan.
Konon, jumlah PSK di kawasan Dolly sempat mencapai 5.000 orang. Bahkan di antara tahun 1990 sampai 2005. Dolly, pernah mencapai masa kejayaannya, pada waktu itu total jumlah PSK lebih dari 9.000 orang. Inilah yang menjadikan Dolly sangat terkenal.
Pada tahun 2010, karena Dolly dianggap sukses dan masyarakat Surabaya sempat menganggap Dolly sebagai lokalisasi yang legal. Karena tidak tersentuh oleh aparat seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Maka para mucikari atau calo PSK di Dolly saat bekerja diwajibkan untuk memakai baju batik. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan antara warga sekitar, pemakai jasa PSK atau lelaki hidung belang serta pengguna jalan. Ini juga merisaukan warga yang lewat di malam hari, karena sering keliru dengan warga yang lewat di jalan Dolly yang menggunakan batik, dianggap sebagai makelar alias Calo PSK.
Dolly Chavit meninggal dunia pada tahun 1992. Pihak keluarga memakamkan di kompleks pemakaman Nasrani di Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Konon nama Dolly itu diambil untuk mengenang sang legenda Tante Dolly, setelah kematiannya. Dolly mengaku tidak mengerti siapa yang awalnya memberikan nama itu untuk sebutan tempat lokalisasi yang konon terbesar se-Asia Tenggara. Sedangkan, keturunan tante Dolly juga masih ada yang tinggal di kota Surabaya, namun tidak lagi melanjutkan bisnis tersebut.
Kisah melegenda Dolly ini hanya akan menjadi sebuah cerita, yang mungkin akan terus diingat dan di kenang oleh masyarakat kota Surabaya. Pada hari Rabu tanggal 18 Juni 2014 jam 20.00 wib adalah malam terakhir untuk Gang Dolly. Dolly sendiri akan diubah menjadi gedung enam lantai sebagai pusat ekonomi di Surabaya. Meski begitu, penolakan terus saja terjadi hingga detik-detik dilakukan pengumuman penutupan Dolly. Setelah penutupan lokalisasi Dolly pada hari rabu 18 Juni pukul 20.00 wib, enam hari setelah Dolly ditutup. Ada sebagian dari PSK dan mucikari yang mengembalikan uang yang telah mereka terima. Alasannya adalah para PSK dan Mucikari tersebut pada saat pemberian kompensasi karena ikut-ikutan dengan para PSK dan Mucikari. Alasan lainnya adalah mereka sulit memperoleh pekerjaan seperti yang mereka inginkan. Kalaupun mau berusaha seperti berdagang keuntungannya sedikit dan lama balik modalnya. Di samping itu mereka enggan untuk mengikuti keterampilan dan keahlian yang akan diberikan oleh Walikota Surabaya, karena dianggap sudah tua dan tidak mampu. Sedangkan kalau pulang kampung mereka malu, karena tidak berhasil di Kota. Inilah alasan mereka mengembalikan uang kompensasi tersebut. Dan mereka akan kembali praktek setelah bulan Ramadhan meskipun dengan cara “kucing-kucingan dengan aparat”.
Meskipun begitu masih ada warga eks Dolly yang mau merubah nasibnya, mereka itu adalah pemilik rumah yang dahulu rumahnya digunakan sebagai tempat praktik pelacuran sejak ditutup lokalisasi tersebut, mereka merubah rumah tinggal menjadi tempat kos-kosan.
Dolly, memang akan abadi dan akan terus menjadi sebuah memori. Setelah penutupan Dolly, puluhan wisma boleh ditutup dan berganti fungsi. Para penghuninya; PSK, penjual makanan dan minuman, tukang parkir, penyewa lahan parkir, hingga tukang cuci bisa pindah untuk mencari pekerjaan baru dan semoga mendapat pekerjaan yang lebih baik. Meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan di tempat baru mereka bekerja. Namun Dolly tetap Dolly. Ceritanya tidak pernah bisa dihapus dan ikut membentuk sejarah kota Surabaya, kota metropolitan yang warganya pantang menyerah untuk mendapat tempat lebih baik bagi siapa saja.

Pemeran Di Balik Layar


            Lokalisasi Dolly, merupakan sebuah tempat yang cukup menarik untuk di bahas ulang, di pelajari lagi bagaimana kisah-kisah dan siapa saja tokoh di baliknya. Para tokoh hebat yang bisa membuat Dolly di tutup.
Sabtu, 12 April 2019 diadakan kuliah lapangan pada mata kuliah Ilmu Dakwah dengan tema “Dakwah Kontemporer & Enterpreneurship”. Kuliah lapangan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa prodi Komunikasi Penyiaran Islam Semester 2 UIN Sunan Ampel Surabaya yang diadakan di area lokalisasi Dolly bertempat di Masjid At Taubah Jl. Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya. Pada kuliah lapangan ini di datangkan para narasumber hebat yang merupakan pemeran di balik layar dari cerita Dolly itu ditutup.
Tugas dan peran mereka tidak sama, mereka saling membantu untuk terealisasinya penutupan Dolly.

Yang pertama, H. Sunarto Sholahuddin (Owner PT. Berkah aneka laut & Bendahara umum Masjid Nurul Fattah Jl. Demak 319 Surabaya)

Beliau merupakan sosok yang membantu secara financial untuk proses penutupan Dolly itu sendiri. Motto beliau adalah “Kunci Kesuksesan adalah kejujuran”. Beliau datang dari keluarga yang kurang mampu hingga sekarang menjadi pemilik dari perusahaan perkapalan. Kisah hidup beliau yang berjuang dari masa nol hingga sekarang bisa membuat kita terinspirasi untuk tetap berjuang bagaimanapun keadaan kita. Awal kisah beliau adalah out of the box yaitu keluar dari zona nyaman agar bisa eksplor lebih luas lagi. Beliau bercerita pernah menjadi karyawan restoran selama 5 tahun hingga akhirnya membuat bisnis penangkapan ikan dengan keluarganya dan sekarang menjadi seorang pengusaha sukses.
Yang kedua, Dr. H. Sunarto AS, MEI (Doktor Prostitusi/ IDEAL – MUI Jatim)


Motto beliau adalah “Dakwah di lokalisasi itu harus dilakukan secara jaringan atau dakwah integral, dakwah tidak sendiri tapi bersama-sama. Itu yang lebih optiomal.” Konteks dakwah beliau adalah mengubah kemungkaran menjadi kebajikan, dengan menggunakan metode berdakwah Integratif, Persuasif dan Solutif. Sebelum nya beliau hanya berinisiatif untuk berdakwah secara individu di daerah lokalisasi, tetapi hasilnya tidak maksimal dan membutuhkan waktu yang lama. Sehingga beliau mengajak elemen - elemen masyarakat yang lain seperti kiai Khoiron Syuaib selaku ustad di daerah lokalisasi, serta Prof. Ali Aziz selaku salah satu dosen universitas negeri islam di Surabaya yang sudah mahir dalam bidang berdakwah.

Yang ketiga, KH Khoiron Syu'aib (Kyai Prostitusi)


KH Khoiron memanfatkan gedung bioskop yang tak jauh dari Bangusari untuk menggencarkan visi misinya yakni mengetuk hati nurani para WTS dan mucikari. Bahkan sampai dengan sekarang, beliau masih berceramah tetapi tidak di gedung bioskop, melainkan di balai RW setiap seminggu sekali.
Tidak semua orang mendukung dakwah beliau. Cibiran, cemohan dan hinaan pernah menderanya. Namun beliau tidak menanggapi cibiran dan cemoohan dari masyarakat sekitar dengan serius, beliau tetap terus berdakwah, dan juga tak pernah menegur ataupun mengancam jamaahnya meskipun kembali ke profesi sebagai WTS dan mucikari. Beliau hanya percaya jika hidayah Allah pasti datang.
Berkat kegigihannya, dakwahnya mulai diterima oleh kalangan WTS dan mucikari. Beliau kemudian mendirikan sebuah Pondok Pesantren Roudlotul Khoir di Bangunsari sebagai pusat dakwah. Pesantren yang beliau dirikan ini merupakan pengembangan dari TPQ Raudlatul Khoir yang beliau bina selama puluhan tahun. 
Yang terakhir, H. Gatot Subiantoro (Mantan Preman Lokalisasi)

            Motto beliau adalah “Kekayaan itu tidak ada habisnya, kemiskinan itu tidak ada habisnya. Tetapi umur itu pasti ada masa habisnya.” Sesosok mantan pimpinan preman yang diberi hidayah oleh Allah untuk bertaubat. Saya kagum karena baru pertama kali ini saya melihat langsung sesosok orang yang dulunya adalah pimpinan preman yang kemudian bertaubat dan berada dijalan Allah. Meskipun beliau adalah mantan preman, perjuangan beliau juga berat terutama beliau harus berhadapan dengan teman-teman nya terdahulu yang merupakan sesama preman. Tapi beliau tetap teguh untuk berada di jalan Allah dan tidak kembali ke jalan yang slah bahkan beliau juga merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam proses pentutupan lokalisasi Dolly.
            Mempelajari kisah awal Dolly hingga penutupannya membuat saya terkesan dan membuat saya mengambil beberapa pelajaran diantaranya,
            Pertama, saya sangat bersyukur dan berterima kasih dengan diadakannya kuliah lapangan tersebut. Karena saya bisa bertemu dan mendengar kisah-kisah para narasumber yang sangat menginspirasi serta mengagumkan.
            Kedua, saya bisa belajar mengenai hal-hal baru seperti kiat sukses dalam menjalani kehidupan dan juga prinsip apa yang di pakai dalam meraih kesuksesannya yang di bagikan oleh H. Sunarto Sholahuddin.
            Ketiga, saya bisa belajar bagaimana cara berdakwah yang baik untuk mitra dakwah yang seperti masyarakat lokalisasi Dolly, bagaimana cara menyampaikan pesan dakwah yang baik, dan serba-serbi dakwah yang khusus ditujukan untuk menyadarkan masyarakat lokalisasi.
            Keempat, saya belajar bersabar dan untuk tetap terus maju pantang mundur dalam menyampaikan kebaikan dan mencegah keburukan.
            Terakhir, pelajaran yang saya dapat adalah terus berusaha menegakkan kebaikan dengan berbagai cara yang mampu kita lakukan. Tidak harus sendiri, rangkul orang-orang yang bisa diajak untuk berbuat baik.


(Sumber : HUMANIORA Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora Volume 11, Nomor 2, Desember 2014 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar