Lokalisasi Dolly
Berada di tempat yang strategis di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan
Sawahan, Kota Surabaya, Jawa Timur. Wilayah lokalisasi prostitusi yang
beraktivitas mulai sekitar tahun 1960-an ini mencakup 5 RW dan berada di
kawasan padat penduduk. Di kiri kanan jalan sepanjang kurang lebih 150 meter
dengan lebar sekitar 5 meter beraspal cukup halus, hasil proyek Perbaikan
Kampung (Kampung Improvement Project) tahun 1977. Tepatnya, kompleks pelacuran
ini berlokasi di Jalan Kupang Gunung Timur V Raya.
Kawasan ini baru hidup pada saat malam hari. Di kawasan ini banyak
berdiri wisma-wisma, klub malam dan tempat karaoke dengan lampu gemerlapan yang
berkelapkelip di setiap tempat hiburan. Sementara itu, kondisinya saat siang
hari tidak begitu menarik nyata seperti pada umumnya perkampungan penduduk.
Kehidupan daerah Dolly di siang hari menampilkan wajah-wajah asli wanita
penghuninya, tanpa make up tidak begitu menyolok hanya polesan tipis menghiasi
wajah-wajah mereka. Sebagian besar penduduk di sekitar lokalisasi juga
memanfaatkan keberadaan wismawisma itu dengan berjualan kopi, rokok ataupun
makanan. Di rumah-rumah itulah para warga yang tinggal di sekitar lokalisasi,
pekerja seks komersial dan juga mucikari tinggal berdampingan secara damai.
Tidak ada yang tahu pasti bagaimana kawasan lokalisasi Dolly
berdiri untuk pertama kalinya. Namun, nama Dolly sudah sangat terkenal sejak
lama. Bahkan sejumlah literatur menyebutkan Dolly sudah ada sejak abad 19, di
masa kolonial Belanda.
Konon kawasan ini menjadi lokalisasi pelacuran yang terbesar
se-Asia Tenggara dibandingkan Phat Pong di Bangkok-Thailand dan Geylang di
Singapura. Keberadaan Dolly bahkan dinilai lebih terkenal dibandingkan Kota
Surabaya sendiri. Bukan hanya warga lokal yang datang ke Dolly, bahkan orang
asing pun diketahui banyak yang penasaran dengan Dolly. Banyak wisatawan luar
negeri yang menyeberang dari Bali ke Surabaya hanya untuk ke Dolly. Bahkan
banyak yang mengatakan belum ke Surabaya jika belum mampir ke Dolly. Meskipun
hanya sekedar lewat untuk melihat-lihat saja, kehidupan Dolly di malam hari.
Menurut sejarahnya asal mulanya didirikan oleh seorang perempuan
Noni Belanda Karena tempatnya berada di jalan Jarak. Maka nama lokalisasinya
adalah “Jarak”. Sedangkan Tante Dolly itu bukan yang kali pertama mendirikan
lokalisasi Dolly tersebut, tapi merupakan generasi kedua setelah “Jarak”.
Karena lokalisasi Jarak yang masih satu kompleks dengan lokalisasi Dolly itu
lebih dulu ada dibanding Gang Dolly, maka orang lebih mengenalnya dengan nama
“Dolly” yang identik dengan “Jarak”.
Namun, justru Tante Dolly lebih terkenal se-antero Asia Tenggara
dibanding pendahulunya, yaitu Jarak. Jarak sendiri, merupakan limpahan atau
buangan Pekerja Sek Komersil dari lokalisasi yang ada di stren kali Jagir,
Wonokromo.
kompleks ini awalnya merupakan pemakaman Tionghoa meliputi wilayah
Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
Pada tahun 1960-an, makam-makam tersebut dibongkar dan sebagian
besar dijadikan permukiman. Sekitar tahun 1966, munculah para pendatang yang
kemudian menetap di kawasan itu. Dan tercatat pada 1967, datang seorang mantan
pelacur berdarah Jawa-Filipina bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal
dengan sebutan Tante Dolly.
Dolly, yang kemudian menikah dengan seorang pelaut Belanda. Dolly
merupakan seorang wanita yang memiliki perangai seperti laki-laki, alias
tomboy. Dolly, lebih suka dipanggil “papi” dari pada “mami”. Dari hasil
pernikahannya, Dolly dikaruniai seorang putra yang diberi nama Edy. Dolly juga
mengambil anak angkat yang diberi nama Bambang. Bersama suaminya Dolly
mendirikan rumah bordil pertama di sebuah jalan, yang bernama Jalan Kupang
Gunung Timur I. Bisnis “Papi Dolly” awalnya sempat dilanjutkan oleh seorang
anak hasil hubungan Dolly dengan seorang pelaut Belanda.
Namun, usaha itu tidak dilanjutkan setelah anak “Papi Dolly”
tersebut meninggal dunia. Dolly, kemudian mengelola satu wisma bernama Mamamia.
Tak lama setelah itu, dibangun sebuah wisma bernama Barbara yang dikelola oleh
keturunan Belanda. Akhirnya, Dolly memiliki usaha pelacuran. Ia mengangkat
mucikari yang diambil dari Kampung Semolosewu. Dari sini mulai muncul sebutan Papi
Dolly. Papi Dolly sendiri tidak hanya memiliki satu wisma, tetapi memiliki
empat wisma itu masing-masing diberi nama T, Sul, NM dan MR. Tiga di antara
empat wisma itu disewakan pada orang lain. Di lokasi itu, muncul kemudian
beberapa wisma baru seperti Wisma TKT dan Sembilan Belas.
Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mendirikan usaha di
sekitar wisma milik tante Dolly. Kawasan itu kemudian dikenal dengan sebutan
Gang Dolly yang juga bersebelahan dengan kawasan prostitusi Jarak. Jadilah
perkampungan itu menjadi nama Gang Dolly pada awal 1970. Keberadaan rumah
pelacuran itu banyak membuat orang penasaran.
Bahkan, sosok Tante Dolly juga membuat banyak lelaki hidung belang
datang ke tempat tersebut. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung,
namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati
layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung
dan jumlah PSK. Namun, nama Dolly-lah yang lebih santer dibandingkan dengan
Jarak. Hingga puluhan wisma bermunculan mulai dari sisi jalan sebelah barat,
lalu meluas ke timur, hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.
Selain lokasinya yang strategis, cara menjajakan pelacur di tempat
ini juga cukup dramatis dan miris sehingga menjadikan Dolly sangat terkenal.
Para pemuas nafsu itu akan dipajang di ruangan berkaca dengan lampu menggoda
layaknya etalase, bak ikan di aquarium. Para PSK duduk berjajar rapi dengan
pakaian serba minim dan menantang dengan high hells. Dengan begitu, lelaki yang
datang untuk memakai jasanya akan bebas memilih dengan siapa ia mau ditemani.
Sedangkan, di luar etalase lelaki yang hendak memakai jasa PSK tersebut tidak
terlihat oleh PSK. Kian suksesnya bisnis Tante Dolly ini, dibuktikan dengan
makin menjamurnya wisma di tempatnya itu, tidak hanya prajurit Belanda saja
yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya
juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas
pengunjung dan jumlah PSK.
Dan akhirnya lokalisasi itu disebut Gang Dolly, yang cukup terkenal
seAsia Tenggara. Dolly, mencapai puncak kejayaannya pada tahun 2004. Perputaran
uang di Dolly sungguh fantasis. Dalam satu hari uang yang berputar di sana
mencapai Rp 5 milyar sehari dan ada sekitar 15 ribu orang yang menggantungkan
hidupnya di sana. Mulai dari sopir taksi, penjual makanan, penjual minuman,
tukang becak, tukang cuci, pemilik wisma, pemilik karaoke hingga warga yang
menyewakan lahan parkir.
Bahkan, sebagian aliran uang panas tersebut jatuh ke aparat. Mulai
dari tingkat RT, RW, satpol PP, polisi hingga tentara. Pada saat itu ada 56
wisma besar di Dolly saja, terkumpul uang kontrol Rp. 7,5 juta per hari. Per
bulan mencapai Rp 420 juta. Itu dengan asumsi tamu yang datang setiap hari
sekitar 1.500 orang. Versi lain menyebutkan bahwa Perputaran uang di Lokalisasi
Gang Dolly yang berpuluh-puluh tahun buka 24 jam hingga dibatasi hanya 16 jam,
yaitu pukul 09.00 Wib sampai pukul 01.00 dini hari berikutnya.
Pada tahun 2011, saat itu merupakan salah satu mesin ekonomi
Surabaya. Pasalnya, di kawasan Dolly ini, perputaran uang tidak hanya terjadi
dari aktivitas penjaja dan penikmat seks semata. Warga di sekitar Dolly yang
beraktivitas sebagai pedagang kaki lima (PKL), calo PSK, penjual rokok, pemilik
warung kopi hingga buruh cuci juga turut andil di dalamnya. Setiap hari,
deretan parkir, PKL, penjual rokok, penjual kopi hampir tidak pernah sepi di
sepanjang jalan itu. Begitu juga dengan klub malam dan tempat-tempat karaoke,
semakin malam akan semakin banyak pengunjung yang datang. Bukan hanya dari
dalam kota, tapi juga dari luar kota Surabaya dan bahkan mancanegara.
Lokalisasi prostitusi yang sudah beraktivitas sejak tahun 1960-an ini telah
menjadi tumpuan hidup ribuan orang.
Banyak yang menyebutkan bahwa perputaran uang di kawasan light
district legendaris ini bisa mencapai miliaran rupiah. Ada yang menyebutkan Rp
1 miliar hingga Rp 2 miliar dalam sehari. Belum termasuk jumlah uang yang masuk
ke kas daerah dari pajak yang nilainya juga bisa mencapai miliaran rupiah.
Namun, Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Kota Surabaya,
Joestamadji, membantah bahwa puluhan miliar uang dari Dolly tidak masuk ke kas
daerah Menurut Joestamadji, mengatakan bahwa “sejumlah aktivitas di Dolly tidak
ditarif retribusi selama ini”. Sementara itu, menurut hitungan AFP, dalam
sehari semalam, uang yang berputar di kawasan ini mencapai Rp 300 juta hingga
Rp 500 juta (25.000 $ USA–42.000 $ USA$).
Uang itu sebagian besar dinikmati oleh para pedagang kaki lima di
sekitar lokasi, para sopir taksi dan tukang ojek. Mereka semua menggantungkan
hidupnya dari bisnis tersebut. Penghasilan rata-rata yang diterima tiap malam
untuk PSK bervariasi, tergantung dari transaksi awal. Ada yang mendapatkan penghasilan
sebesar Rp 8–10 juta hingga Rp 13–15 juta rupiah per malam (850 $ US -1.500 $
US) atau sekitar Rp 36 Milyar/tahun. Versi lain menyatakan bahwa setiap PSK
bisa mengantongi uang sekitar Rp 13 juta hingga Rp 15 juta per bulan. Sedangkan
sang mucikari tentu jauh lebih banyak yakni bisa mencapai Rp 60 juta per bulan.
Berapa rupiah mereka akan kehilangan jika lokalisasi Dolly tersebut di tutup.
Hal inilah yang menjadi alasan mereka untuk tetap mempertahankan keberadaan Dolly.
Mendapatkan uang dalam jumlah besar yang bisa diperoleh dengan mudah. Hal ini
pulalah yang membuat PSK Dolly selalu bertambah dan hanya sebagian kecil yang
mau beralih profesi dan dipulangkan. Melihat begitu besarnya perputaran uang
dari kehadiran rumah-rumah bordil di kawasan Dolly, tak heran jika muncul
penolakan atas penutupan lokalisasi itu. Sebagian besar PSK dan mucikari Dolly
memang mengaku tidak setuju dengan rencana penutupan tersebut. Alasannya yakni
karena bisnis esek-esek yang dijalankan sudah terlanjur makmur. Puluhan juta
rupiah bisa diperoleh setiap bulannya dari satu wisma atau pemilik tempat
hiburan.
Konon, jumlah PSK di kawasan Dolly sempat mencapai 5.000 orang.
Bahkan di antara tahun 1990 sampai 2005. Dolly, pernah mencapai masa kejayaannya,
pada waktu itu total jumlah PSK lebih dari 9.000 orang. Inilah yang menjadikan
Dolly sangat terkenal.
Pada tahun 2010, karena Dolly dianggap sukses dan masyarakat
Surabaya sempat menganggap Dolly sebagai lokalisasi yang legal. Karena tidak
tersentuh oleh aparat seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Maka para
mucikari atau calo PSK di Dolly saat bekerja diwajibkan untuk memakai baju
batik. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan antara warga sekitar, pemakai jasa
PSK atau lelaki hidung belang serta pengguna jalan. Ini juga merisaukan warga
yang lewat di malam hari, karena sering keliru dengan warga yang lewat di jalan
Dolly yang menggunakan batik, dianggap sebagai makelar alias Calo PSK.
Dolly Chavit meninggal dunia pada tahun 1992. Pihak keluarga
memakamkan di kompleks pemakaman Nasrani di Sukun, Kota Malang, Jawa Timur.
Konon nama Dolly itu diambil untuk mengenang sang legenda Tante Dolly, setelah
kematiannya. Dolly mengaku tidak mengerti siapa yang awalnya memberikan nama
itu untuk sebutan tempat lokalisasi yang konon terbesar se-Asia Tenggara.
Sedangkan, keturunan tante Dolly juga masih ada yang tinggal di kota Surabaya,
namun tidak lagi melanjutkan bisnis tersebut.
Kisah melegenda Dolly ini hanya akan menjadi sebuah cerita, yang
mungkin akan terus diingat dan di kenang oleh masyarakat kota Surabaya. Pada
hari Rabu tanggal 18 Juni 2014 jam 20.00 wib adalah malam terakhir untuk Gang
Dolly. Dolly sendiri akan diubah menjadi gedung enam lantai sebagai pusat
ekonomi di Surabaya. Meski begitu, penolakan terus saja terjadi hingga
detik-detik dilakukan pengumuman penutupan Dolly. Setelah penutupan lokalisasi
Dolly pada hari rabu 18 Juni pukul 20.00 wib, enam hari setelah Dolly ditutup.
Ada sebagian dari PSK dan mucikari yang mengembalikan uang yang telah mereka
terima. Alasannya adalah para PSK dan Mucikari tersebut pada saat pemberian
kompensasi karena ikut-ikutan dengan para PSK dan Mucikari. Alasan lainnya
adalah mereka sulit memperoleh pekerjaan seperti yang mereka inginkan. Kalaupun
mau berusaha seperti berdagang keuntungannya sedikit dan lama balik modalnya.
Di samping itu mereka enggan untuk mengikuti keterampilan dan keahlian yang
akan diberikan oleh Walikota Surabaya, karena dianggap sudah tua dan tidak
mampu. Sedangkan kalau pulang kampung mereka malu, karena tidak berhasil di
Kota. Inilah alasan mereka mengembalikan uang kompensasi tersebut. Dan mereka
akan kembali praktek setelah bulan Ramadhan meskipun dengan cara
“kucing-kucingan dengan aparat”.
Meskipun begitu masih ada warga eks Dolly yang mau merubah
nasibnya, mereka itu adalah pemilik rumah yang dahulu rumahnya digunakan
sebagai tempat praktik pelacuran sejak ditutup lokalisasi tersebut, mereka
merubah rumah tinggal menjadi tempat kos-kosan.
Dolly, memang akan abadi dan akan terus menjadi sebuah memori.
Setelah penutupan Dolly, puluhan wisma boleh ditutup dan berganti fungsi. Para
penghuninya; PSK, penjual makanan dan minuman, tukang parkir, penyewa lahan
parkir, hingga tukang cuci bisa pindah untuk mencari pekerjaan baru dan semoga
mendapat pekerjaan yang lebih baik. Meskipun tidak semudah membalikkan telapak
tangan di tempat baru mereka bekerja. Namun Dolly tetap Dolly. Ceritanya tidak
pernah bisa dihapus dan ikut membentuk sejarah kota Surabaya, kota metropolitan
yang warganya pantang menyerah untuk mendapat tempat lebih baik bagi siapa
saja.
Pemeran Di Balik Layar
Lokalisasi Dolly,
merupakan sebuah tempat yang cukup menarik untuk di bahas ulang, di pelajari
lagi bagaimana kisah-kisah dan siapa saja tokoh di baliknya. Para tokoh hebat
yang bisa membuat Dolly di tutup.
Sabtu, 12 April 2019 diadakan kuliah lapangan pada mata kuliah Ilmu
Dakwah dengan tema “Dakwah Kontemporer & Enterpreneurship”. Kuliah lapangan
ini diikuti oleh seluruh mahasiswa prodi Komunikasi Penyiaran Islam Semester 2
UIN Sunan Ampel Surabaya yang diadakan di area lokalisasi Dolly bertempat di
Masjid At Taubah Jl. Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya. Pada kuliah
lapangan ini di datangkan para narasumber hebat yang merupakan pemeran di balik
layar dari cerita Dolly itu ditutup.
Tugas dan peran mereka tidak sama, mereka saling membantu untuk
terealisasinya penutupan Dolly.
Yang pertama, H. Sunarto Sholahuddin
(Owner PT. Berkah aneka laut & Bendahara umum Masjid Nurul Fattah Jl. Demak
319 Surabaya)
Beliau merupakan sosok yang membantu secara financial
untuk proses penutupan Dolly itu sendiri. Motto beliau adalah “Kunci
Kesuksesan adalah kejujuran”. Beliau datang dari keluarga yang kurang mampu
hingga sekarang menjadi pemilik dari perusahaan perkapalan. Kisah hidup beliau
yang berjuang dari masa nol hingga sekarang bisa membuat kita terinspirasi
untuk tetap berjuang bagaimanapun keadaan kita. Awal kisah beliau adalah out
of the box yaitu keluar dari zona nyaman agar bisa eksplor lebih luas lagi.
Beliau bercerita pernah menjadi karyawan restoran selama 5 tahun hingga
akhirnya membuat bisnis penangkapan ikan dengan keluarganya dan sekarang menjadi
seorang pengusaha sukses.
Yang
kedua, Dr. H. Sunarto AS, MEI (Doktor Prostitusi/ IDEAL – MUI Jatim)
Motto beliau adalah “Dakwah di lokalisasi itu harus dilakukan
secara jaringan atau dakwah integral, dakwah tidak sendiri tapi bersama-sama.
Itu yang lebih optiomal.” Konteks dakwah beliau adalah mengubah kemungkaran menjadi
kebajikan, dengan menggunakan metode berdakwah Integratif, Persuasif dan
Solutif. Sebelum nya beliau hanya berinisiatif untuk berdakwah secara individu
di daerah lokalisasi, tetapi hasilnya tidak maksimal dan membutuhkan waktu yang
lama. Sehingga beliau mengajak elemen - elemen masyarakat yang lain seperti
kiai Khoiron Syuaib selaku ustad di daerah lokalisasi, serta Prof. Ali Aziz
selaku salah satu dosen universitas negeri islam di Surabaya yang sudah mahir
dalam bidang berdakwah.
Yang
ketiga, KH Khoiron Syu'aib (Kyai Prostitusi)
KH Khoiron memanfatkan gedung
bioskop yang tak jauh dari Bangusari untuk menggencarkan visi misinya yakni
mengetuk hati nurani para WTS dan mucikari. Bahkan sampai dengan sekarang,
beliau masih berceramah tetapi tidak di gedung bioskop, melainkan di balai RW
setiap seminggu sekali.
Tidak semua orang mendukung
dakwah beliau. Cibiran, cemohan dan hinaan pernah menderanya. Namun beliau
tidak menanggapi cibiran dan cemoohan dari masyarakat sekitar dengan serius,
beliau tetap terus berdakwah, dan juga tak pernah menegur ataupun mengancam
jamaahnya meskipun kembali ke profesi sebagai WTS dan mucikari. Beliau hanya
percaya jika hidayah Allah pasti datang.
Berkat kegigihannya,
dakwahnya mulai diterima oleh kalangan WTS dan mucikari. Beliau kemudian
mendirikan sebuah Pondok Pesantren Roudlotul Khoir di Bangunsari sebagai pusat
dakwah. Pesantren yang beliau dirikan ini merupakan pengembangan dari TPQ
Raudlatul Khoir yang beliau bina selama puluhan tahun.
Yang terakhir, H. Gatot Subiantoro (Mantan Preman Lokalisasi)
Motto beliau
adalah “Kekayaan itu tidak ada habisnya, kemiskinan itu tidak ada habisnya.
Tetapi umur itu pasti ada masa habisnya.” Sesosok mantan pimpinan preman
yang diberi hidayah oleh Allah untuk bertaubat. Saya kagum karena baru pertama
kali ini saya melihat langsung sesosok orang yang dulunya adalah pimpinan
preman yang kemudian bertaubat dan berada dijalan Allah. Meskipun beliau adalah
mantan preman, perjuangan beliau juga berat terutama beliau harus berhadapan
dengan teman-teman nya terdahulu yang merupakan sesama preman. Tapi beliau
tetap teguh untuk berada di jalan Allah dan tidak kembali ke jalan yang slah
bahkan beliau juga merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam proses
pentutupan lokalisasi Dolly.
Mempelajari kisah
awal Dolly hingga penutupannya membuat saya terkesan dan membuat saya mengambil
beberapa pelajaran diantaranya,
Pertama, saya
sangat bersyukur dan berterima kasih dengan diadakannya kuliah lapangan
tersebut. Karena saya bisa bertemu dan mendengar kisah-kisah para narasumber
yang sangat menginspirasi serta mengagumkan.
Kedua, saya bisa
belajar mengenai hal-hal baru seperti kiat sukses dalam menjalani kehidupan dan
juga prinsip apa yang di pakai dalam meraih kesuksesannya yang di bagikan oleh H.
Sunarto Sholahuddin.
Ketiga, saya bisa
belajar bagaimana cara berdakwah yang baik untuk mitra dakwah yang seperti
masyarakat lokalisasi Dolly, bagaimana cara menyampaikan pesan dakwah yang
baik, dan serba-serbi dakwah yang khusus ditujukan untuk menyadarkan masyarakat
lokalisasi.
Keempat, saya
belajar bersabar dan untuk tetap terus maju pantang mundur dalam menyampaikan
kebaikan dan mencegah keburukan.
Terakhir,
pelajaran yang saya dapat adalah terus berusaha menegakkan kebaikan dengan
berbagai cara yang mampu kita lakukan. Tidak harus sendiri, rangkul orang-orang
yang bisa diajak untuk berbuat baik.
(Sumber : HUMANIORA Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora Volume 11, Nomor 2, Desember 2014 )
















